Seorang teman kuliah saya di Bandung dulu, adalah anak kos asal Jakarta. Ia memiliki sepeda motor yang dipakai untuk kegiatan sehari-harinya. Kecuali pada saat liburan, di mana ia pulang ke Jakarta menggunakan kereta dan motornya ditinggal di tempat kos.

Saat liburan panjang berakhir, ia kembali ke Bandung dan menemui motornya dalam keadaan berdebu dan tak bisa dihidupkan, karena lama tidak dipanaskan.

Hingga menjelang liburan berikutnya, seorang teman lainnya yang tinggal di Bandung, meminta ijin untuk meminjam motor itu selama liburan. Ia berpendapat, daripada ditinggal tak terpakai, lebih baik motor itu ia pinjam sekalian ia rawat. Si pemilik motor pun langsung setuju. Ia melihat peminjaman ini menguntungkan keduanya. Ia tak perlu kuatir kondisi motornya, sementara si orang Bandung jadi punya kendaraan untuk berjalan-jalan di Bandung selama liburan.

Pikiran seperti itu tampaknya ada juga di benak Arsene Wenger. Saat ini ia dikabarkan tengah berpikir untuk membawa pulang Thierry Henry ke London dengan status pinjaman jangka pendek selama dua bulan. Bukan hanya Henry, Wayne Bridge pun kabarnya akan bergabung dengan skuad Arsenal, juga dengan status pinjaman.

Wenger memang belum mengonfirmasi pendekatannya terhadap dua pemain itu. Namun yang jelas ia sedang berupaya mencari solusi cepat untuk menambal kekuatan Arsenal di tengah musim ini.

Akankah Wenger mengulang sukses bersama Henry?

Jika memang Wenger melakukan pendekatan serius, sepertinya tidak akan ada kesulitan berarti. New York Red Bulls, klub Henry saat ini, tidak akan bertanding dalam waktu dekat karena MLS sedang dalam masa jeda hingga musim baru diawali Maret tahun depan. Henry sendiri pun akan diuntungkan, karena bisa tetap menjaga kondisi dan kemampuan selama jeda tersebut.

Demikian juga dengan Wayne Bridge. Statusnya yang tidak terpakai di Manchester City tentu membuatnya tak punya alasan menolak berkompetisi di level utama bersama Arsenal. City pun pasti akan dengan senang hati meminjamkannya, karena bisa mengurangi beban keuangan dari pemain tak terpakai yang bergaji 95.000 pounds per pekan.

Dan Wenger meman membutuhkan mereka. Ia butuh seorang pelapis di lini depan. Robin van Persie memang sedang on-fire. Tapi jadwal padat di musim dingin sangat rentan menyebabkan kelelahan dan cedera. Wenger tentu tak mau ambil resiko terburuk terjadi pada ujung tombak utamanya itu.

Status pelapis sebenarnya ia miliki pada diri Marouane Chamakh dan Park Chu-young. Hanya saja, Chamakh sedang tidak dalam performa yang bagus. Ia pun akan meninggalkan skuad Arsenal untuk memperkuat Maroko di Piala Afrika selama bulan Januari ini. Sementara Park Chu-young juga masih harus beradaptasi di musim pertamanya di Arsenal dan belum bisa menunjukkan penampilan maksimal.

Sebenarnya ada dua pemain lagi yang menghuni lini depan Arsenal, yaitu Gervinho dan Theo Walcott. Tapi di formasi Arsenal saat ini mereka menempati posisi utama sayap kiri dan kanan, dan hasilnya cukup memuaskan. Sehingga Wenger pun membutuhkan orang lain untuk melapis Van Persie.

Selain itu Arsenal sedang dilanda krisis full-back. Kieran Gibbs, Andre Santos, Bakary Sagna dan Carl Jenkinson semuanya dalam kondisi cedera. Itulah sebabnya Wenger mencari cara cepat menambal kelimbungan ini sampai mereka yang cedera sembuh. Terutama untuk posisi bek kiri, karena untuk bek kanan Wenger telah menempatkan Laurent Koscielny sebagai solusi sementara, dengan hasil yang lumayan baik.

“Saya tidak perlu seseorang untuk dikontrak lama. Memiliki 3 atau 4 pemain di posisi bek kiri itu terlalu banyak. Sementara untuk jangka panjang saya tetap akan memakai Santos dan Gibbs, yang punya kualitas yang saya suka,” jelas Wenger.

 Pertanyaannya, apakah Henry dan Bridge adalah orang yang tepat? Mereka memang punya nama dan track record yang patut dipertimbangkan. Secara posisi pun mereka multifungsi. Selain posisi ujung tombak, jika dibutuhkan Henry pun bisa dimainkan di sayap kiri, bergantian dengan Gervinho. Sementara Bridge bisa bermain sebagai full back kiri atau kanan.

Peminjaman jangka pendek di tengah musim beberapa kali memang menunjukkan hasil bagus. Contohnya adalah Landon Donovan. Selama jeda MLS musim lalu, pemain LA Galaxy ini dipinjam oleh Everton. Hasilnya memuaskan. Dari 13 penampilannya bersama Everton, ia mencetak 2 gol dan menjadi Club Player of The Month untuk bulan Januari 2011. Ini membuat Everton kembali meminjam Donovan selama 2 bulan mulai Januari 2012.

Contoh sukses lain adalah rekan seklub Donovan di Galaxy, David Beckham. Ia dipinjam oleh AC Milan di bulan Januari 2009, dan hasilnya impresif. Ia mencetak 2 gol di 4 pertandingan pertamanya. Torehan ini membuat Milan bermaksud mentransfer Beckham secara permanen, namun Galaxy menolaknya. Setelah negosiasi akhirnya pinjaman diperpanjang hingga akhir musim Serie A, di mana Beckham membantu Milan mencapai posisi ketiga. Tak berhenti di sini, Milan pun kembali meminjam Beckham di tengah musim berikutnya.


 David Beckham, sukses saat dipinjam Milan

Di Liga Indonesia pun pernah ada pemain yang dipinjam jangka pendek dan sukses, yaitu duo Thailand, Sintaweechai ‘Kosin’ Hathairattanakool dan Suchao Nuchnum yang dipinjam Persib Bandung di paruh pertama musim 2009-2010. Mereka berhasil membawa Persib menjadi juara paruh musim, di mana Kosin mencatat beberapa kali clean sheet sementara Suchao menjadi motor lini tengah dan turut menghasilkan 3 gol dalam 13 kali penampilannya.

Yang harus diperhatikan juga sebenarnya adalah apa yang terjadi setelah masa peminjaman itu. Sering kali terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, baik terhadap pemain maupun kedua klub yang terlibat. Melihat performa bagus Kosin dan Suchao, Persib bermaksud memperpanjang kontraknya, namun klub mereka di Thailand tidak memberikan. Hasilnya, sepeninggal mereka, Persib mengalami penurunan performa. Posisi puncak klasemen terlepas dan harus puas dengan posisi ketiga di akhir musim.

Sementara Beckham berbeda cerita. Karena masa pinjamnya di Milan diperpanjang, ia tidak bisa memperkuat Galaxy di paruh awal musimnya. Ia pun dibenci oleh para suporter Galaxy, dicap tidak berkomitmen dan hanya mementingkan popularitas di Eropa. Sekembalinya Beckham ke Galaxy ia harus rela dicemooh oleh suporter Galaxy dalam penampilannya di kandang.

Masa peminjaman kedua, Beckham dirundung kesialan berbeda. Baru menjalani bulan pertamanya di Milan, ia mengalami cedera achilles tendon parah. Ia harus absen cukup lama, dan kembali tidak bisa memperkuat Galaxy di awal musim MLS. Pihak Galaxy pun meradang dan menuntut kompensasi pada Milan akibat kerugian ini. Bukan hanya itu, Beckham pun harus mengubur mimpinya untuk terpilih dalam skuad Inggris ke Piala Dunia 2010. Di mana jika mengingat usianya, itu adalah kesempatan terakhirnya tampil di Piala Dunia.

Tidak semua berakhir buruk, memang. Landon Donovan salah satu contohnya. Tapi yang  paling fenomenal tentu kisah Jimmy Glass bersama Carlisle United. Glass adalah seorang kiper yang dipinjam dari Swindon di bulan April 1999. Kondisi Carlisle saat itu memang tengah darurat. Mereka tak memiliki satu kiper pun yang bisa bertanding saat tenggat transfer sudah lama lewat. Kompetisi hanya menyisakan 3 pertandingan dan Carlisle terpuruk di zona degradasi.

Glass membantu Carlisle meraih hasil imbang di dua pertandingan pertamanya. Tapi Carlisle harus menang di pertandingan terakhir melawan Plymouth Argyle untuk lolos dari degradasi.

Hinga 10 detik menjelang akhir pertandingan, kedudukan imbang 1-1 dan Carlisle mendapatkan tendangan penjuru. Keharusan untuk menang membuat Glass berlari ke depan gawang lawan. Tanpa diduga, ia berhasil menyambar bola liar dan menyarangkannya. Carlisle selamat, Glass pun menjadi pahlawan yang dielu-elukan.

Ironisnya, Glass tak pernah bermain lagi untuk Carlisle. Ia kembali ke Swindon, dan pahlawan Carlisle yang paling dikenal adalah seorang pemain yang tak pernah mereka miliki.


Jimmy Glass sesaat setelah mencetak gol ke gawang Plymouth

Bagaimanapun, kalau memang dibutuhkan, pinjaman jangka pendek bisa dipertimbangkan. Selama aturan memungkinkan, tak ada salahnya untuk dijalankan. Hasil yang baik pun bisa diharapkan.

Seperti kedua teman saya di awal cerita tadi. Sekembalinya dari liburan, si orang Jakarta senang mendapati motornya dalam keadaan bersih terawat. Sementara si orang Bandung lebih bahagia lagi. Dengan motor itu ia berhasil melakukan pendekatan pada seorang gadis yang lalu menjadi kekasihnya.

Jadi siapa tahu, dengan peminjaman Henry dan Bridge, Wenger bisa juga mendapatkan ‘kekasih’ yang didambakannya, yaitu gelar juara. Walau berat, kemungkinan tetap ada.

Bonne chance, monsieur!

  1. hujanpoyan reblogged this from bolaitubundar
  2. bolaitubundar posted this